Microsoft Office 2010 Professional Beta

Assalamualaikum warahmatullah wa barakaatuh

Kepada para pengunjung demakislam yang tercinta pada kali ini,kami ingin menyajikan software yang semua dari kita menggunakannya.Wabil khusus untuk menunjang aktivitas kita di mana kita bekerja.Dan tentunya software ini,kami bawakan dalam satu paket غير محجوبة (ghoiru mahjubah) unlimited sehingga bagi saudara yang membutuhkan lebih nyaman dan tidak jengkel.Dan saya anjurkan agar memakai software IDM (internet dowload manager),yang baru kita bahas.Bagi pengguna Speedy paket game unlimited pagi hari plus IDM kecepatan 130 /kbps ,jadi download file office 2010 ini cuma membutuhkan waktu dua jam

Selanjutnya anda download Microsoft Office 2010 Professional Beta

Untuk serialnya ada dibawah ini

mudah-mudahan lancar downloadnya,dan jangan lupakan kami didalam bagusnya doamu kepada Allah.

JAzakumullah khoiron katsiro.

Internet download manager 5.18 build 5

Internet Download Manager 5.18 build 5  (nov/11/2009)Full

Merupakan salah satu software pendukung yang paling kuat dan cepat untuk keperluan download pada saat-saat ini.Dan ini terbukti dengan banyaknya perusahaan yang telah memberikan anugerah penghargaan pada software ini.Dan sekaligus sebagai software yang masuk nominasi Bestseller. Baca selebihnya »

Waktu Shalat Jum’at

Penulis : Al-Ustadz Abu Ishaq Muslim Al-Atsari

Selesai sudah pembahasan kita tentang waktu shalat fardhu yang lima waktu. Berikut ini kita akan membahas tentang waktu shalat Jum’at yang juga merupakan shalat yang wajib ditunaikan oleh kaum laki-laki di masjid.

Pendapat mayoritas ulama, waktu shalat Jum’at adalah bila matahari telah tergelincir seperti halnya waktu shalat zhuhur. Hal ini ditunjukkan dalam hadits-hadits berikut ini:
Dari Iyas bin Salamah ibnul Akwa’ dari ayahnya, ayahnya berkata: Baca selebihnya »

Waktu-waktu yang Terlarang untuk Shalat

Penulis : Al-Ustadz Abu Ishaq Muslim Al-Atsari

‘Uqbah bin ‘Amir radhiyallahu ‘anhu berkata:
ثَلاَثُ سَاعَاتٍ كَانَ النَّبِيُّ صلى الله عليه وسلم يَنْهَانَا أَنْ نُصَلِّيَ فِيْهِنَّ أَوْ أَنْ نَقْبُرَ فِيْهِنَّ مَوْتَانَا: حِيْنَ تَطْلُعُ الشَّمْسُ بَازِغَةً حَتَّى تَرْتَفِعَ، وَحِيْنَ يَقُوْمُ قَائِمُ الظَّهِيْرَةِ حَتَّى تَمِيْلَ الشَّمْسُ، وَحِيْنَ تَضَيَّف لِلْغُرُوْبِ حَتَّى تَغْرُبَ
“Ada tiga waktu di mana Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang kami untuk melaksanakan shalat di tiga waktu tersebut atau menguburkan jenazah kami, yaitu ketika matahari terbit sampai tinggi, ketika seseorang berdiri di tengah hari saat matahari berada tinggi di tengah langit (tidak ada bayangan di timur dan di barat) sampai matahari tergelincir dan ketika matahari miring hendak tenggelam sampai benar-benar tenggelam.” (HR. Muslim no. 1926) Baca selebihnya »

Hukum Mayoritas Dalam Syariat Islam

Penulis : Al-Ustadz Ruwaifi’ bin Sulaimi Al-Atsari

Telah menjadi sunnatullah kalau kebanyakan manusia merupakan para penentang kebenaran. Maka menjadi ironi, ketika kebenaran kemudian diukur dengan suara mayoritas.

Apa Itu Hukum Mayoritas ?

Yang dimaksud dengan hukum mayoritas dalam pembahasan ini adalah suatu ketetapan hukum di mana jumlah mayoritas merupakan patokan kebenaran dan suara terbanyak merupakan keputusan yang harus diikuti, walaupun ternyata bertentangan dengan Al-Qur’an dan Sunnah Rasulullah .
Sejauh manakah keabsahan hukum mayoritas ini? Baca selebihnya »

Siapakah Ahlu Syura?

Penulis : Redaksi majalah Asysyari’ah

Dalam demokrasi, orang mengenal istilah one man one vote. Dengan satu orang satu suara, maka tak ada lagi istilah muslim atau kafir, ulama atau juhala, ahli maksiat atau orang shalih, dan seterusnya. Semua suara bernilai sama di hadapan ‘hukum’. Walhasil, keputusan yang terbaik adalah keputusan yang diperoleh dengan suara mayoritas. Lalu bagaimana dengan sistem Islam? Siapakah yang patut didengar suaranya? Baca selebihnya »

Tuntunan Bagi yang Mendengar Adzan

Penulis : Al-Ustadz Abu Ishaq Muslim Al-Atsari

Ada beberapa perkara yang semestinya dilakukan oleh yang mendengar adzan.

Pertama: Ia mengucapkan semisal yang diucapkan muadzin (menjawab adzan), namun tidak dengan suara keras seperti suaranya muadzin, karena muadzin menyeru/memberitahu orang lain sedangkan dia hanya menjawab muadzin. (Asy-Syarhul Mumti’, 2/83)
Abu Sa’id Al-Khudri radhiyallahu ‘anhu mengabarkan bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
إِذَا سَمِعْتُمُ النِّدَاءَ فَقُوْلُوْا مِثْلَ مَا يَقُوْلُ الْمُؤَذِّنُ
“Apabila kalian mendengar adzan maka ucapkanlah seperti yang sedang diucapkan muadzin.” (HR. Al-Bukhari no. 611 dan Muslim no. 846) Baca selebihnya »

Tidak Sama Lelaki dengan Wanita

Penulis : Asy-Syaikh Shalih Al-Fauzan

Secara fitrah, wanita jelas berbeda dengan pria. Namun dengan mengatasnamakan “hak wanita”, sejumlah pihak nyaring mengampanyekan kesetaraan pria dan wanita. Tatanan yang telah selaras fitrah pun hendak dikoyak, yang sejatinya kehormatan wanitalah yang tengah mereka rusak. Padahal telah diketahui, kerusakan wanita berimbas pada kerusakan masyarakatnya. Baca selebihnya »

Dukun Sahabat Setan

Penulis : Al-Ustadz Abulfaruq Ayip Syafrudin

Perdukunan ada di mana-mana. Dalam tumbuh kembangnya, dunia perdukunan (termasuk paranormal) hadir tak semata di tingkat akar rumput yang rata-rata berpendidikan rendah. Pun tak semata di area yang dihuni rakyat jelata yang miskin, papa dan hidup terbelakang. Dunia perdukunan menyentuh juga manusia yang hidup dalam kawasan elite, prestisius bahkan borjuis. Perdukunan merambah kemana pun. Menyeruak, masuk ke alam kehidupan semua strata dan latar belakang manusia, kecuali orang-orang yang dirahmati-Nya. Baca selebihnya »

Sensasi Dukun dan Perdukunan

Penulis : Al-Ustadz Abu Hamzah Yusuf

Sebenarnya dukun dan perdukunan bukanlah sesuatu yang baru atau asing dalam sejarah kehidupan manusia. Keberadaannya sudah sangat lama, bahkan sebelum datangnya Islam dan diutusnya Nabi kita Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
أَلَمْ تَرَ إِلَى الَّذِينَ أُوتُوا نَصِيبًا مِنَ الْكِتَابِ يُؤْمِنُونَ بِالْجِبْتِ وَالطَّاغُوتِ وَيَقُولُونَ لِلَّذِينَ كَفَرُوا هَؤُلَاءِ أَهْدَى مِنَ الَّذِينَ ءَامَنُوا سَبِيلًا
“Apakah kamu tidak memerhatikan orang-orang yang diberi bagian dari Al-Kitab? Mereka percaya kepada jibt dan thaghut, serta mengatakan kepada orang-orang kafir (musyrik Makkah), bahwa mereka itu lebih benar jalannya dari orang-orang yang beriman.” (An-Nisa’: 51). Baca selebihnya »

Melestarikan Budaya, Ritual Biasa ataukah ?

Penulis: Al Ustadz Ja’far Shalih

Indonesia sebagai sebuah negara muslim terbesar ternyata masih menyimpan sejumlah kebudayaan yang menurut kacamata agama sangat bertolak belakang dengan nilai-nilai fundamental di dalam Islam. Lihat saja seperti acara Grebeg Suro yang setiap tahunnya selalu berulang di berbagai tempat di tanah air. Acara yang selalu diisi dengan pelepasan sesaji, kapala kerbau, nasi tumpeng atau yang lainnya ini menurut banyak kalangan “hanya sebuah ritual” atau “upaya melestarikan budaya leluhur”.

Padahal apabila setiap muslim mau mengevaluasi kembali dan mencocokkannya dengan Kitabullah dan Sunnah Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam menurut pemahaman yang benar (shahabat, tabi’in, tabi’ut tabi’in), pasti mereka akan mendapati dengan jelas penyimpangan yang nyata dari acara-acara tersebut terhadap syari’at yang suci ini.

Grebeg Suro berikut acara pelepasan sesajiannya dengan maksud apa pun adalah pelanggaran yang besar terhadap ajaran Islam. Umumnya para penyelenggara dan peserta berharap kepada Sang Pencipta bahwa dengan acara ini mereka diberi keselamatan, kesejahteraan dan kemakmuran serta maksud-maksud yang lainnya. Dan tidak sedikit juga -dari mereka- yang mengharapkan hal serupa dari para leluhur??! (KOMPAS 21.1.07).

Ritual lain yang tidak kalah hebat adalah upacara persembahan yang biasanya diadakan selang terjadinya suatu musibah gunung meletus, banjir, atau musibah lainnya, seperti yang terjadi beberapa waktu belakangan ini di Porong Sidoarjo. Alih-alih mencetuskan teknologi mutakhir untuk menghentikan semburan lumpur panas, yang terjadi malah mengadakan upacara pemberian sesaji, sekian ekor kerbau rencananya akan dikurbankan guna menghentikan bencana nasional ini?! Belum lagi acara serupa yang mewarnai upaya pencarian korban penumpang KM Senopati Nusantara, Pesawat Adam Air dan serentetan musibah lainnya. Baca selebihnya »

Islam Mengajarkan Keadilan, Bukan Persamaan dalam Segala Hal

Penulis : Al-Ustadz Abu Karimah Askari bin Jamal Al-Bugisi

الرِّجَالُ قَوَّامُونَ عَلَى النِّسَاءِ بِمَا فَضَّلَ اللهُ بَعْضَهُمْ عَلَى بَعْضٍ وَبِمَا أَنْفَقُوا مِنْ أَمْوَالِهِمْ فَالصَّالِحَاتُ قَانِتَاتٌ حَافِظَاتٌ لِلْغَيْبِ بِمَا حَفِظَ اللهُ
“Kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum wanita, oleh karena Allah telah melebihkan sebagian mereka (laki-laki) atas sebagian yang lain (wanita), dan karena mereka (laki-laki) telah menafkahkan sebagian dari harta mereka. Sebab itu maka wanita yang shalihah, ialah yang taat kepada Allah lagi memelihara diri ketika suaminya tidak ada, oleh karena Allah telah memelihara (mereka).” (An-Nisa`: 34) Baca selebihnya »

Mau Kemana Partai Islam?

Penulis : Redaksi majalah Asysyari’ah.com


Umat Islam belumlah lupa, beberapa waktu silam pascareformasi, kala hendak memilih pemimpin negeri ini, sebuah fatwa diteguhkan oleh sejumlah partai politik (parpol) Islam, ”haram memilih pemimpin wanita”. Namun beberapa waktu kemudian, ”fatwa” itu dimentahkan kembali. Bak bola salju, perkara ini terus menggelinding dan membesar. Hingga pada pemilihan kepala daerah (pilkada), tak cuma soal wanita, sejumlah parpol Islam bahkan sudah tidak malu mendukung kepala/wakil kepala daerah non-muslim. Baca selebihnya »

Memaknai Politik Syar’i

Penulis : Al-Ustadz Ruwaifi’ bin Sulaimi

Makna Politik

Politik, dalam bahasa arab disebut dengan siyasah. Dalam kamus Lisanul Arab karya Ibnu Manzhur (juz 6 hal. 429) disebutkan bahwa kata siyasah bermakna mengurus sesuatu dengan kiat-kiat yang membuatnya baik.
Politik itu sendiri, menurut Al-Imam Ibnul Qayyim rahimahullahu terbagi menjadi dua macam:
1. Politik yang diwarnai kezaliman. Maka ini diharamkan dalam syariat Islam.
2. Politik yang diwarnai keadilan. Maka ini bagian dari syariat Islam. (Lihat Ath-Thuruq Al-Hukmiyyah fis Siyasah Asy-Syar’iyyah, hal. 4) Baca selebihnya »

Berdemokrasi, Berkolaborasi Meruntuhkan Islam

Penulis : Al-Ustadz Abulfaruq Ayip Syafruddin

Sistem kepartaian lahir sebagai konsekuensi logis dari demokratisasi yang bergulir. Demokrasi adalah sebuah paham yang lahir dari pemikiran filsafat Yunani. Dengan tiga pilar inti: liberty (kebebasan), fraternity (persaudaraan), dan equality (persamaan), paham demokrasi dijajakan secara paksa ke negeri-negeri kaum muslimin.

Negara yang paling getol memompakan paham ini adalah Amerika Serikat (AS). Melalui beragam cara, negeri Paman Sam ini terus melakukan neo-kolonialisme (penjajahan gaya baru) dengan meracuni negeri-negeri kaum muslimin dengan paham Yunani satu ini. Baca selebihnya »